KEKERASAN DALAM PACARAN (DATING VIOLENCE)

23 Oct 2012

Pacaran adalah masa indah bagi setiap manusia, terutama bagi yang pertama kali merasakan cinta. Setiap orang berhak merasakan indahnya masa pacaran tidak ada batasan usia dalam hal ini terutama anak muda. Pacaran adalah tahap saling mengenal dan menjajaki antara dua manusia yang berbeda jenis kelamin (laki-laki dan perempuan). Di tengah indahnya masa pacaran dan perasaan cinta yang bergelora justru tidak jarang terjadi tindak kekerasan didalamnya. Kekerasan dalam pacaran tidak mengenal batas usia pacaran maupun usia individu yang terlibat.

Kekerasan dalam berpacaran atau dating violence merupakan kasus yang sering terjadi setelah kekerasan dalam rumah tangga. Dari data Rifka Annisa didapat fakta yang mengejutkan bahwa dating violance menempati posisi kedua setelah kekerasan dalam rumah tangga. Tercatat dari 1994-2011 (Januari-Oktober), Rifka Annisa telah menangani 4952 kasus kekerasan pada perempuan, posisi pertama kasus KDRT sebanyak 3274 kasus, dan posisi kedua kasus dating violance tercatat 836 kasus.

Kekerasan dalam pacaran masih belum begitu mendapat sorotan jika dibandingkan kekerasan dalam rumah tangga sehingga terkadang masih terabaikan oleh korban dan pelakunya. Pengertian dari kekerasan dalam pacaran adalah tindak kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan yang mencakupi kekerasn fisik, psikologi dan ekonomi. Pelaku yang melakukan kekerasan ini meliputi semua kekerasan yang dilakukan di luar hubungan pernikahan yang sah yang tertuang dalam UU perkawinan No 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 2 mencakup kekerasan yang dilakukan oleh mantan suami, mantan pacar, dan pasangan (pacar). Sedangkan menurut Office on Violence Against Women (OVW) of the U.S. Department of Justice dating violance adalahDating violence is controlling, abusive, and aggressive behavior in a romantic relationship. It occurs in both heterosexual and homosexual relationships and can include verbal, emotional, physical, or sexual abuse, or a combination of these.

Terdapat beberapa bentuk-bentuk kekerasan dalam pacaran yaitu:

  • Kekerasan fisik seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencekram dengan keras pada tubuh pasangan dan serangkaian tindakan fisik yang lain.
  • Kekerasan psikologis seperti mengancam, memanggil dengan sebutan yang mempermalukan pasangan menjelek-jelekan dan lainya.
  • Kekerasan ekonomi seperti meminta pasangan untuk mencukupi segala keperluan hidupnya (memanfaatkan atau mloroti pasangan).
  • Kekerasan seksual seperti memeluk, mencium, meraba hingga memesakan hubungan tidakan hubungan seksual dibawah paksaan dan ancaman.
  • Tindakan stalking seperti mengikuti, membututi dan serangkaian aktivitas yang mengganggu privasi dan membatasi aktivitas sehari-hari pasangan.

Dampak dari kekerasan dalam pacaran sangat banyak meliputi fisik yaitu luka fisik dari kekerasan yang dilakukan pasangan bisa meliputi luka ringan hingga berat. Dampak psikis yaitu perasaan cemas, murung, prestasi menurun, gangguan pola makan hingga depresi bahkan melakukan tindakan yang menyakiti dirinya sendiri atau bunuh diri. Ada juga kemungkinan untuk lari pada alkohol ataupun narkoba. Untuk kasus kekerasan seksual (pemakasaan hubungan seksual) implikasi bisa menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan yang berujung pada tindakan aborsi yang tidak aman. Aborsi dilakukan karena kehamilan dianggap menyebabkan masalah sosial seperti dikeluarkan sekolah, dikucilkan oleh masyarakat dan teman, serta harus menjadi orang tua tunggal jika pasangan tidak mau bertanggung jawab. Selain itu jika individu yang hamil usianya di bawah 20 tahun, resiko kesehatan yang ditanggung lebih besar sehingga dapat mengancam jiwa ibu dan bayi yang di kandung.

Pencegahan kekerasan dalam pacaran dimulai dari kesadaran bahwa expresi cinta tidak dengan cara menyakiti, ini harus dipahami betul oleh para remaja yang dimabuk cinta ketika pacaran. Saling menyepakati untuk membina hubungan yang sehat sejak awal pacaran dan mengutarakan harapan-harapan masing-masing kedepanya. Saling terbuka membicarakan resiko yang ditangung masing-masing pihak, apabila batasan-batasan tersebut dilanggar. Selanjutnya, memahami bahwa kita berhak atas badan kita tidak ada yang boleh menyakiti tak terkecuali pasangan. Berani berkata tidak jika pasangan memaksakan beberbagai bentuk tindak kekerasan disertai argumen yang bisa diterima oleh pasangan. Jangan memaksakan diri sendiri untuk menyenangkan pasangan apabila hal tersebut tidak kita kehendaki. Jika semua hal tersebut sudah dilakukan dan tetap saja terjadi bentuk-bentuk yang semakin mengkhawatirkan maka jangan takut untuk melaporkan pada polisi atau bisa juga ke LSM yang menangani masalah tersebut. Sebab kekerasan dalam pacaran telah di atur dalam UU perkawinan dan dampaknya telah diatur dalam KUHP. Cintailah tubuh kita sendiri karena my body is my right.[panani]


TAGS


-

Author

Follow Me