Kesetaraan Gender dalam Pendidikan
Oleh : Pramulia Panani
Pendidikan di Indonesia saat ini masih bias gender. Hal tersebut berkaitan dengan masih banyak masyarakat yang salah kaprah memaknai gender. Gender dan jenis kelamin (seks) diartikan sama saja padahal dua hal tersebut sangat berbeda. Gender bukan gender yang dimaknai sebagai kodrat Tuhan, tidak juga karena perbedaan biologis (jenis kelamin). Pengertian gender lebih jauh diungkapkan oleh Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial,gender adalah sifat yang melekat pada laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural.
Satrock dalam bukunya Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup, menjelaskan gender dan seks (jenis kelamin) adalah sesuatu yang yang berbeda, seks mengacu pada dimensi biologis pada laki-laki dan perempuan, sedangkan gender merupakan dimensi sosial dan budaya laki-laki dan perempuan. Hal senada juga dikatakan oleh Oakley dalam Sex Gender dan Society yang diterangkan oleh Prof Dr. Zainudin Maliki dalam tulisannya Bias Gender Dalam Pendidikan, bahwa gender merupakan behavioral difference antara laki-laki dan perempuan yang terkonstruksi secara sosial yaitu perbedaan yang bukan kodrati, bukan ciptaan Tuhan tetapi diciptakan oleh laki-laki melalui proses sosial budaya yang panjang. Gender akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu, sementara seks tidak akan berubah. Gender lebih kepada persoalan peran sosial yang dilakukan laki-laki dan perempuan yang bisa di tukar dengan mudah. Tetapi ciri kodrati tidak bisa ditukar seperti gender.
Pendidikan sebagai dasar
Pemahaman yang bias mengenai gender bisa diasumsikan bermula dari pendidikan, baik pendidikan dari keluarga maupun di sekolah. Berangkat dari hal tersebut ketidaksetaraan gender dalam pendidikan terjadi.Salah satu contohnya, pada pola mengajar yang dilakukan oleh guru kepada siswanya. Ketika ada anak laki-laki menangis, seorang guru tidak jarang bilang masa anak laki-laki menangis, anak laki-laki tidak boleh cengeng. Sebaliknya, jika menemui anak perempuan yang memanjat pagar, memanjat pohon, naik ke meja, tidak jarang guru akan bilang itu tidak sopan, perempuan harus berperangai lemah lembut tidak pecicilan. Maksud dari guru baik, namun tanpa disadari justru pembentukan sifat feminim dan maskulin dengan cara seperti itu justru mematikan sifat-sifat lain yang positif pada diri siswa, misalnya keberanian pada anak perempuan, dan sisi sensitif pada anak laki-laki. Sehingga, kepribadian anak bukan karena dari dirinya sendiri tapi karena tuntutan sosialnya. Anak perempuan adalah pihak yang paling banyak dampak dari ketidaksetaraan gender dalam pendidikan. Untuk memahami lebih lanjut tentang masalah gender dalam pendidikan, lebih lanjut Departemen Pendidikan Nasional telah merangkum menjadi empat aspek, yaitu akses, partisipasi, pembelajaran dan penguasaan.
Pertama adalah akses pendidikan. Misalnya,di suatu daerah tingkat pendidikannya hanya sampai SMP, tingkat SMA-nya ada di kota atau daerah lain maka mau tidak mau, harus menempuh jarak jauh untuk bisa melanjutkan sekolahnya. Bagi anak laki-laki hal tersebut tidak menjadi masalah, tapi berbeda dengan anak perempuan. Orang tua yang masih berpandangan konservatif akan segan melepaskan anak perempuannya ke sekolah yang jauh jaraknya walaupun lebih bagus fasilitasnya, sehingga terpaksa anak perempuan cenderung putus sekolah. Jika pun ada sekolah di daerahnya tetapi fasilitasnya minim anak perempuan lebih dibolehkan melanjutkan ke sekolah tersebut. Padahal ia juga memiliki kesempatan yang sama dalam mendapatkan pendidikan yang lebih baik sama seperti laki-laki tanpa terhalang karena dia seorang perempuan, seperti yang dijelaskan dalam UUD 1945 pasal 31.
Kedua partisipasi. Aspek partisipasi dilihat seberapa jauh anak perempuan bisa turut serta dalam pendidikan. Indonesia yang hidup dengan budaya patriarki justru menghalangi perempuan untuk berkembang melebihi wilayah domestik. Akibatnya perempuan terhambat dalam memperoleh kesempatan meraih pendidikan formal yang lebih tinggi. Contoh lain, alasan ekonomi keluarga mengutamakan pendidikan pria lebih tinggi karena akan menjadi kepala keluarga dan perempuan harus mengalah karena dirasa pendidikan tinggi bagi perempuan itu tidak begitu penting. Padahal justru tugas perempuan pun juga tidak kalah urgen yaitu mendidik anak agar tercipta generasi yang unggul.
Aspek ketiga yaitu pembelajaran dalam pendidikan. Masih banyak buku pelajaran yang menampilkan ilustrasi bias gender. Misalnya seorang pilot, tentara, direktur selalu diidentikkan dengan gambar laki-laki, dan sebaliknya perempuan diilustrasikan memasak, menyapu, mencuci, menjahit. Jadi dapat dimaknai bahwa jabatan-jabatan tertentu yang membutuhkan kecakapan dan kekuatan adalah tempatnya laki-laki, dan jabatan yang terkait dengan tugas domestik cocok untuk perempuan.
Aspek terakhir adalah penguasaan. Hal-hal terkait perempuan ingin melanjutkan studi harus dimintai persetujuan laki-laki tapi tidak demikian dengan laki-laki. Keputusan yang dibuat tak jarang merugikan perempuan. Aspek penguasaan terkait bias gender telah tertanam sejak dini melalui melalui kesimpulan yang dilihat oleh anak. Contohnya, ketika melihat ibu dan asisten rumah tangga mengerjakan tugas domestik, bermula dari itulah pikiran anak tertanam bahwa memasak, mencuci, dan lainnya adalah pekerjaan yang dikuasai perempuan.
Setelah meninjau uraian diatas, perlu adanya upaya memangkas kelangsungan ketidaksetaraan gender dalam pendidikan. Pertama, berawal dari pendidik yang harus memiliki pengetahuan dasar yang mendalam mengenai gender sehingga ia menjadi sadar betul mengenai akibat pendidikan yang bias gender. Selain itu pendidikan gender juga harus ditanamkan sejak dini tidak hanya sebagai materi pelajaran tetapi aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Memang semua itu tidak mudah dilakukan. Akan tetapi, langkah tersebut paling tidak turut menjadi andil dalam upaya kesetaraan gender dalam pendidikan, di mana perempuan atau laki-laki mendapat kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan.




January 15th, 2013 at 6:45 PM
Informasi ini apa baru sampai Indonesia? Buku Oakley tersebut sudah bacaan pokok untuk mahasiswa social anthropology di barat 15 tahun yang lalu.. Hope you guys don’t think this is breaking news!
January 15th, 2013 at 9:11 PM
he eh. angka partisipasi anak perempuan dalam pendidikan di daerahku juga rendah. ini sebenernya pengaruh budaya lama, dimana anak perempuan tidak dianggap penting utk sekolah tinggi2.
January 17th, 2013 at 11:10 AM
kalu sistem pendidikannya beruybah terus gak jadi bagus pendidikan dasarnya
January 17th, 2013 at 11:06 PM
tulisan goblok dari penulis yang goblok, dalam pendidikan di indonesia sudah menghargai gender wanita, sudah banyak wanita di sekolah yang memegang jabatan ketua osis dan jabatan ketua kelas, si penulis mau mintanya lebih, jika lelaki suka manjat pagar, cabut sekolah, tawuran si wanita harus ikutan jangan di larang karena akan terjadi gagalnya kesetaraan gender emangnya mau bikin carakter anak bandel atau tomboy ke wanita, memang menangis tidak dilarang pada lelaki tapi kebanyakan menangis pada lelaki itu tidak baik, berarti si lelaki mempunyai sifat wanita alias bencong, perempuan menangis itu adalah wajib bagi mereka, apa kamu tidak pernah mendengar kiasan orang, tangisan adalah senjata wanita, bapak atau suami akan runtuh jika anak atau istrinya sudah menangis mereka akan pusing dan mengalah serta menuruti kehendak anak atau istrinya.
kamu lihat di perguruan tinggi mana paling banyak yang kuliah anak wanita atau anak laki laki, anak wanita kebanyakan di rumah dan sering belajar dari anak laki laki, biasnya nilai anak wanita bagus bagus dan laki laki banyak yang jelek, kebanyakan pikiran laki laki sehabis sma lebih baik cari kerja daripada kuliah, biasanya yang wanita banyak yang kuliah karena tujuan dari awal, jarang di dalam keluarga membedakan status jenis kelamin dalam kuliah, jika si anak wanita lolos perguruan tinggi negri si bapak pasti akan fokus untuk mengulihakan anaknya dari pada anak laki laki yang tidak lulus perguruan tinggi.
terus masalah gambar, siapapun orang akan tahu mayoritas danyang identik jadi pilot itu memang laki laki karena membutuhkan fisik dan konsentrasi yang tinggi ( memang ada satu satu yang wanita ), si wanita identik dengan jadi pramugari, tentarapun indentik dengan pria, directur pun indentik dengan pria si wanita indentik dengan sekretaris, dan perempuan dalam gambar indentik dengan memasak, menyapu dan mencuci, ok jika kita ikuti jalan pikiran anda kita balik itu gambar, yang jadi pilot wanita,tentara wanita,directur wanita, terus yang jahit,mencuci dan memasak serta menyapu adalah pria, jika gambar itu di ajarkan terus menerus dalam 25 tahun ke anak sd,smp,sma maka apa yang akan terjadi? anda ingin membentuk karakter feminim pria akan terjadi banyak homo atau gay, akan terjadi banyak lesbi di dunia ini akan terjadi imbas kekacauan kodrat yang amat hebat, sehebat pisik si wanita apa dia sanggup di kerahkan ke medan perang garis depan melawan musuh di hutan atau di daerah konflik paling panas di dunia, jadi pilot memang di utamakan laki laki karena laki laki tidak ada cuti hamil dan melahirkan, pilot di utamakan punya fisik dan daya tahan yang kuat, butuh konsentrasi yang pasti, sifat wanita jika ada masalah dalam keluarga pasti akan terbawa dalam kerjanya itu akan membawa bahaya jika dia jadi pilot sedikit kesalahan dalam kokpit pilot maka puluhan nyawa akan melayang.
jadi sipenulis memaksakan kesentraan gender yang menentang kodrat si wanita atau kesetaraan gender versi Setan.
January 17th, 2013 at 11:30 PM
tambahan lagi kelihatan si penulis betul betul meminggirkan peran agama dan pendidikan agama dalam keluarga ada catatan si penulis di atas yang berbunyi \Padahal justru tugas perempuan pun juga tidak kalah urgen yaitu mendidik anak agar tercipta generasi yang unggul.\, si penulis meminta lebih ke pria untuk memberikan haknya kepada wanita tapi si penulis tampa sadar tetap memasukan kodrat wanita dalam tulisanya, mana yang lebih baik mendidik anak, wanita karir yang bergerlar profesor,DR, dan menjadi Direktur yang sibuk dalam bekerja daripada Ibu Rumah tangga tamatan SMA tapi mengetahui ilmu agama yang baik? kebanyakan wanita karir akan mencari pembantu untuk mengurus anaknya, dia malah sibuk dengan perkerjaanya, secara tidak lansung si wanita itu merendahkan derajat wanita lain dengang memberikan pekerjaan yang hina( menurut penulis) yaitu memasak,mencuci dan menyapu rumahnya serta mengasuh anaknya, kenapa wanita lain. tampa sadar si penulis yang melakukan anti kesetaraan gender, misal jika kesetaraan gender di lakukan 100% sukses apakah yang akan terjadi? misal seorang pria karir kawin dengan wanita karir, jika melahirkan siapa yang mengurus anaknya kan semua wanita di dunia sudah jadi wanita karir, dan apabila jabatan karir yang di emban wanita adalah pilot atau tentara, perusahaan pilot meminta para pilotnya untuk siap sedia karena permintaan penerbangan yang semakin tinggi sedangkan dia sedang hamil dan menyusui dan jika karirnya jadi tentara si wanita harus siap sedia ke medan perang jika negara di serang walau dia sedang hamil berat dan sedang menyusui, ujung ujung nya si wanita meminta supaya dia di samakan alias tidak hamil juga, berarti menentang kodrad alam, akan habis populasi manusia jadinya.
sekian paparan dariku mohon maaf jika ada yang salah.
February 10th, 2013 at 10:13 AM
Susah memang jika berurusan dengan wanita.
Dikasih kesempatan buat pergi jauh dari ortu eh malah pacaran sampe kebablasan trus zina lagi. -____________-
Gak dikasih kesempatan sekolah jauh2 karena gak ada saudara yang bisa ngontrol di tempat dia ingin kuliah eh malah dibilang ortu gak menghargai kesempatan seorang wanita.
-_________________-
Hei para wanita, seperti yang Suparman bilang diatas. Tanpa mengikutkan agama, segala hal menjadi seenaknya.
Kenapa wanita harus minta izin kepada laki2? Mau tahu?
Iya, kalo anda beragama pasti anda tahu kalo jika laki2 berbuat dosa maka itu menjadi tanggungannya sendiri. Tetapi, jika seorang wanita melakukan perbuatan dosa atau mengalami penderitaan, maka yang akan diseret ke NERAKA JAHANNAM lebih dulu adalah Ayahnya, Kakak laki2nya, suaminya, dan anaknya.
Jika keempat posisi itu tidak bisa membuktikkan tanggung jawab mereka, maka keempat orang itu yang akan menanggung dosa atas perbuatan anak gadis mereka.