Diskusi dengan Our Voice, Cinta dan Keberagaman Seksual

6 Mar 2013

Gagasan seputar seksualitas di masyarakat nampak didominasi oleh sistem heteronormatif, bekerja melalui pola pikir oposisi biner, sistem ini telah berhasil mempengaruhi lahirnya penilaian normatif terhadap relasi seksual. Pandangan normal dan tidak normal dalam relasi seksual dibenturkan hingga menghasilkan penilaian yang berbeda dan akhirnya melahirkan reaksi yang berbeda pula di masyarakat.

Hingga kini hanya relasi heteroseksual yang dianggap sah dan wajar, sementara relasi homoseksual acap kali mendapat penilaian negatif, yang kemudian menjadi inferior, subordinat, terpinggirkan bahkan tidak didengar. Atas dasar itu Divisi Humas Media Rifka Annisa menggelar diskusi tentang “Keragaman Seksualitas” (Rabu, 27/03/13), yang merupakan diskusi lanjutan dari pelatihan sebelumnya tentang Keragaman Seksual dengan M. Yasir Khalimi salah satu dosen di Unnes Semarang.

Kali ini menghadirkan narasumber langsung, Hartoyo dari organisasi Our Voice yang merupakan salah satu organisasi yang bergerak pada isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di Jakarta, dengan harapan isu ini tidak hanya sebatas wacana, sehingga dialog secara langsung menjadi penting untuk memunculkan kesadaran baru tentang kemanusiaan, sensitivitas person perlu dibangun dalam ruang dialog yang terbuka.

Acara yang dibuka dengan dua video yang mengisahkan kehidupan anak gay yang akhirnya berani terbuka, dan ibu yang menerima seorang anak gay menunjukan fakta yang terjadi di masyarakat. “Membuka diri untuk coming out dengan teman-teman komunitas lebih mudah dilakukan daripada dengan keluarga, hal ini yang sering dihadapi teman-teman LGBT dimana keluarga menjadi persoalan besar para temen-temen LGBT, ” ungkap Toyo saat membuka diskusi tersebut.

“Keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi mereka, sampai sekarang justru banyak keluarga yang belum bisa menerima, ketika tahu anaknya seorang lesbian, gay, maupun trangender, apalagi di Indonesia sendiri belum banyak yang memiliki shelter yang bisa memahami persoalan LGBT,” tegas Toyo.

Ia juga menjelaskan dua lapis persoalan lagi yakni stigma negatif di masyarakat, seperi halnya yang dialami oleh para trangender (sebut saja waria). ” Waria lebih terbuka, ekpresif namun konsekwensinya dia akan mendapatkan tekanan social lebih keras dan mengerikan, seperti yang kita tahu para waria memilih hijrah ke kota untuk bertahan hidup dan karena diusir dari rumah, kemudian tidak diterima secara sosial sampai dia harus ngamen dan memutuskan pergi ke kota,” ungkap Toyo.

“Saya sebenarnya kagum dengan waria karena dia memperjungkan identitasnya sampai dia kehilangan hak dasarnya, mungkin saya tidak sanggup seperti itu, bertarung dipublik, tidak bisa sekolah, tidak bisa kerja, bahkan terkadang tidak memilliki skill. Tapi dia tetap berani kemana-mana untuk memperjuangkan identitasnya,” ujar Toyo.

Belum lagi negara ikut merepresi identitasnya dalam kartu identitas penduduk (misal KTP), lebih jauh lagi negara ikut andil menciptakan diskrimanasi dengan alasan menjaga ketertiban dan keamanan, negara yang seharusnya melindungi dan memberikan hak-hak dasarnya malah sebaliknya, mendiskriminasi dan memperlakukan tidak adil terhadap warganya.

Sampai detik ini sebenarnya keluarga menjadi tempat yang paling aman bagi kami, bagi saya, bagi temen-temen LGBT, tapi kalau keluarga sudah tidak aman, masyarakat tidak menerima, negara sudah tidak melindungi. “Ini sangat mengerikan, terkadang saya maupun teman-teman bingung, kami mau kemana?” jelas Toyo dengan menceritakan pengalaman yang dialami teman-temanya.

Menurut Toyo sendiriseksualitas manusia sebuah identitas yang cair, hasil sebuah kontruksi manusia yang tentunya dapat berubah-ubah dan selalucross cuttingjadi bisa jadi sekarang saya homoseksual, besoknya menjadi heteroseksual, hal ini menurut Toyo adalah sesuatu yang personal yang tidak bisa diintervensi oleh orang lain apalagi negara. Tapi yang terjadi di negara ini seksualitas juga di inetervensi.

Pembagian seksualitas yang mengacu pada jenis kelamin tertentu menyimpan persoalan mendalam, identitas yang tidak telihat membungkam seksualitas seseorang untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi, seksualitas yang semestinya bebas dan dijalankan sesuai dengan keinginannya, harus tunduk pada aturan yang merupakan hasil konstruksi belaka.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini, berjalan menarik. Toyo juga mengusulkan terhadap organisasi-organisasi yang bergerak pada isu perempuan untuk tidak terjebak pada pembagian jenis kelamin tertentu melainkan mendefiniskan kembali terhadap arti laki-laki maupun perempuan, diskusi ditutup dengan foto bersama dan pemberian buku kepada Our voice.


TAGS Our voice cinta dan keberagaman seksual


-

Author

Follow Me