Liputan Jogja TV: Cinta yang Setia

11 Mar 2013

Tema Merayakan Kesetiaan Cinta yang diangkat Rifka Annisa pada peringatan Hari Perempuan Sedunia 2013 lalu dibahas dalam acara Bincang Hari Ini awal Maret di Jogja TV.

Any Sundari selaku Manajer Hubungan Masyarakat dan Media Rifka Annisa menjelaskan, tema tersebut muncul lantaran banyaknya pejabat publik yang justru mencederai kesetiaan cinta melalui selingkuh yang dilegalkan melalui nikah siri dan poligami. Cinta yang tidak setia itu sendiri merupakan salah satu bentuk kekerasan.

Tema yang dipaparkan tersebut mengundang banyak pendapat dari masyarakat Yogyakarta. Salah satu penanya beranggapan, selingkuh ataupun poligami tidak akan terjadi ketika seorang istri memberikan pelayanan yang baik.

Menganggapi pendapat itu, Nurul mengemukakan bahwa struktur sosial yang terbentuk dalam masyarakat kita umumnya masih meminggirkan kaum perempuan; salah satunya dibolehkannya laki-laki berpoligami. Sebenarnya boleh. Tapi kan, seharusnya syaratnya banyak. Sayangnya konsep itu hanya berhenti pada boleh (berpoligami) saja, jelasnya.

Menurut Nurul, pendapat seperti itulah yang umum. Masyarakat masih memandang posisi laki-laki selalu lebih tinggi daripada perempuan; misalnya, laki-laki diijinkan berpoligami. Sedangkan perempuan hanya boleh memiliki satu cinta, sepenuh hati melayani suami dan ikhlas, tutur direktur Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (Sapda) itu.

Nurul juga menjelaskan bahwa ada anggapan bahwa perempuan berkewajiban penuh untuk melayani dalam kehidupan rumah tangga. Sayangnya, baik tidaknya seorang perempuan dalam melayani bisa jadi subjektif. Saat seorang suami merasa tidak senang dengan layanan istri, hal itu dijadikan alasan untuk beralih dengan perempuan lain. Apakah si perempuan bisa mengadukan hal itu atau tidak, itu merupakan persoalan tambahan.

Menanggapi hal itu, Any mengulas tentang struktur tafsir agama yang berpihak pada laki-laki. Kita harus melihat konteks sejarah terjadinya poligami di zaman Rasulullah. Saat itu terjadi perang, jumlah laki-laki sedikit, kemudian ada anjuran poligami untuk melanjutkan keturunan umat manusia saat itu. jelas Any. Sayangnya saat ini hal itu dibaca sangat sesuai teks, tanpa melihat konteks sosial masa kini di mana anak perlu dibatasi,serta jumlah kelahiran berpengaruh terhadap kesehatan ibu.

Any kemudian mencontohkan fakta yang didapat dari Aliansi Laki-laki Barugerakan laki-laki untuk keadilan genderyang belum lama melakukan pendampingan di Nusa Tenggara Timur. Ada testimoni dari seorang perempuan bahwa ia tidak senang ketika si laki-laki berpoligami. Sedangkan laki-lakinya pun bilang bahwa ternyata poligami itu berat untuk dilakukan,jelasnya. Di situ terlihat bahwa poligami dan nikah siri rentan menimbulkan penderitaan bagi perempuan dan anak.

Mengenai bagaimana seharusnya sebuah hubungan, Nurul menjawab, suami istri yang baik adalah sahabat seumur hidup. Dengan menganggapnya sebagai sahabat, bisa mencurahkan perasaannya, kegalauannya terhadap sesuatu. Selingkuh bukan hanya persoalan ekonomi, tapi juga masalah hati. Seandainya mereka berdua menjadi sahabat, bagian dari hati, serta jiwa, tentu tak ada yang berkeinginan melukai pasangannya, jelas Nurul. Melalui pemahaman tersebut, tentu setiap pasangan akan berpikir ulang untuk melakukan serong yang berujung perselingkuhan yang dilegalkan.***


TAGS kesetiaan cinta cinta yang setia


-

Author

Follow Me