Hari Perempuan Internasional, Sebuah Refleksi

21 Mar 2013

Oleh: SriYulita Pramulia Panani


Tanggal 8 Maret, hari seluruh perempuan sedunia merayakan Hari Perempuan. Hari untuk menghormati perjuangan dalam upayanya memperjuangkan perubahan dan mengingat kemajuan yang telah dibuat untuk peningkatan kualitas hidup perempuan. Di hari tersebut, perempuan tetap berkomitmen untuk berjuang terbebas dari berbagai ketidakadilan, diskriminasi dan tindak kekerasan di segala sektor kehidupan. Di sisi lain,masih banyak perempuan yang belum benar-benar terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan diskriminasi gender.

Bentuk-bentuk ketidakadilan serta diskriminasi gender hingga hari ini masih dirasakan oleh sebagian besar perempuan, tak luputperempuan pedesaan. Bahkan mungkin saja, mereka sendiri tidak tahu jika hari untuk memperingati perempuan itu ada. Kalaupun mereka tahu, mungkin mereka tidak akan ambil peduli, karena tidak ada yang berubah dalam hidup dan keseharian mereka. Hal ini mengisyarakat bahwa perjuangan pemenuhan hak-hak perempuan masih belum menyentuh masyarakat merata, terutama pedesaan.Budaya dan agama yang berpengaruh dalam masyarakat membuat budaya patriarkhi membatasi ruang gerak perempuan.

Perlu disadari, bahwa suatu budaya itu tidak berubah, jika paradigma masyarakatnya juga tidak berubah. Masih banyak perempuan (terutama perempuan di desa) yang memiliki kesulitan dalam mengakses layanan pendidikan, kesehatan dan lainya. Perempuan dianggap hanya bertugas seputar dapur, sumur dan kasur serta tugas domestik lainya. Perempuan hanya dianggapkonco wingking, sebaliknya laki-laki memperlihatkan kuasanya di wilayah publik.


Ubah paradigma dengan pendidikan

Jalan untuk mengubah paradigma yang salah kaprah adalah salah satunya dengan pendidikan. Pendidikan penting untuk perempuan. Perempuan yang menempuh pendidikan akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, untuk meningkatkan taraf hidupnya.Sehinggasecara otomatis juga turut menurungkan angka pengangguran dan penduduk tidak produktif..

Selanjutnya, isu di bidang kesehatan. Perempuan belum banyak mendapat akses dan pengetahuan mengenai kesehatan terkait reproduksi mereka. Terutama pada perempuan di daerah terpencil. Contohnya, pengetahuan perempuan menganai HIV dan AIDS masih rendah, sehingga akan dengan mudah perempuan menjadi korban penularan HIV dan AIDS dari pasangannya. Selain itu pengetahuan perempuan mengenai alat kontrasepsi yang tepat berikut dengan dampak resikonya. cara sosialisasi program KB harus bebas dari bias gender. Sosialisasi yang berfokus pada perempuan sama artinya menjadikan perempuaan sebagai obyek pencapaian kesuksesan program.


Stop kekerasan terhadap perempuan!

Selain isu pendidikan dan kesehatan, isu yang tidak kalah memanas baru-baru ini adalah terkait dengan berbagai kasus kekerasan. Baik itu KDRT, KDP, maupun bentuk kekerasan seksual lainnya, karena semua itu merupakan bentuk perendahan martabat perempuan. Kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan masih belum bisa dihapuskan sepanjang peradapan peradapan perempuan hingga hari ini. Kemiskinan dan miskin kondisi hidup telah menambah kerentanan perempuan terhadap kekerasan dan peningkatan risiko terinfeksi penyakit menular seksual. Selain itu, kemiskinan juga turut memicu terjadinyawoman trafficking terjadi.

Dampak dari berbagai bentuk kekerasan pasti akan meninggalkan trauma mendalam pada korbannya. Tanpa terkecuali korban kekerasan seksual, baik dalam bentuk trauma psikis maupun fisik. Parahnya, negara ini masih memandang korban menjadi pihak yang diadili, direndahkan, disalahkan karena mengundang kekerasan seksual terjadi. Padahal logikanya yang lebih besar berpotensi untuk melakukan kekerasan adalah laki-laki dan perempuan adalah korban. Bentuk ketidakadilan tidak hanya berhenti distu saja, perempuan korban kekerasan juga terkadang tidak mendapat keadilan dalam segi hukum (tidak hanya korban kekerasan seksual, tetapi kebanyakan perempuan masih kurang mendapatkan perlindungan hukum dalam berbagai bidang). Wujud UU-nya ada, tetapi terkadang aplikasinya masih banyak yang kurang.

Berbagai uraian yang dijelaskan di atas, merupakan beberapa isu yang membutuhkan penanganan maksimal dan merupakan bagian dari pekerjaan rumah kita. Baik bagi pejuang keadilan perempuan, maupun pemerintah dan masyarakat luas. Dengan adanya hari perempuan ini kita harus melakukan evaluasi dan refleksi sejauh mana perjuangan perempuan menunjukkan hasilnya. Semangat untuk kemajuan perempuan harus terus berkobar dan menunjukan hasil peningkatan di setiap tahunnya. Semoga setiap tahun di Hari Perempuan menjadi titik pacu dalam mewujudkan pembebasan perempuan dari segala macam problematika ketidakadilan dan berbagai bentuk kekerasan. Memang tidak mudah dalam perjalanannya, namun optimis mutlak diperlukan hingga kapanpun.


TAGS gender hari perempuan sedunia perempuan KDRT perkosaan


-

Author

Follow Me