Pendidikan Bagi Perempuan Itu Penting

21 Mar 2013

Oleh: Sri Yulita Pramulia Panani

Saat ini bukan lagi era-nya Kartini, di mana perempuan dibatasi ruang geraknya untuk mengenyam pendidikan. Sekarang, baik perempuan maupun laki-laki memiliki kesempatan yang sama dalam pendidikan yang mereka inginkan. Di era globalisasi seperti saat ini, perempuan mau tidak mau dituntut untuk bersaing dengan laki-laki dalam segala sektor. Akan tetapi, fakta terkadang berbicara lain. Perempuan masih terbatasi oleh pandangan agama dan budaya dalam mengembangkan potensi dirinya, termasuk mengenyam pendidikan tinggi.

Pandangan agama dan pandangan budaya, seperti budaya patriarkhi turut mempengaruhi pendidikan untuk perempuan. Pandangan agama yang menyinggung bahwa perempuan itu bagian dari laki-laki, segala yang berkaitan dengan keputusan besar perempuan laki-laki yang berwenang memutuskan. Budaya patriarkhi dan ketidakadilan gender, secara tidak langsung telah membatasi perempuan untuk mendapat akses dan berpartisipasi dalam pendidikan. Hal tersebut terbukti dari tingkat pendidikan kaum perempuan di Indonesia yang dinilai masih memprihatinkan. Angka melek huruf dan rata-rata pendidikan yang ditempuh perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Angka putus sekolah anak perempuan pun lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki (dijabarkan dari data Lembar Fakta Pendidikan Untuk Anak Perempuan di Indonesia dari Unicef).

Walaupun sekarang perempuan sudah mengalami banyak kemajuan untuk mendapatkan akses dalam pembangunan,akan tetapi,belum signifikan bila dibandingkan dengan laki-laki. Ketimpangan tersebut dapat dilihat dari kontribusi perempuan dalam pendapatan nasional, sumbangan perempuan berada di angka 33,5 sedangkan laki-laki mencapai 66,5. Karena itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita jauh tertinggal dengan negara-negara lain (Indonesia hanya menduduki peringkat 124 dari 187 negara).


Dunia tanpa diskriminasi

Tingkat pendidikan yang masih rendah pada perempuan berpengaruh juga pada taraf hidup perempuan. Sebagai contohnya, pendidikan yang rendah dapat berpengaruh dalam pemilihan pekerjaan oleh perempuan seperti menjadi pembantu rumah tangga (PRT), TKW, dsb. Apalagi jika perempuan tersebut kurang memiliki wawasan pengetahuan, akan dengan mudah ditipu oleh berbagai pihak yang memanfaatkan kelemahannya. Misalnya calo pencari kerja yang dapat saja menjerumuskan perempuan dalam prostitusi dan praktik trafficking lainnya.

Dari hal tersebut dapat dimaknaibahwa pendidikan yang rendah turut menjadi faktor penyebab adanya diskriminasi dalam pekerjaan. Rendahnya pendidikan dan ketrampilan mempersulit perempuan untuk mencari pekerjaan. Pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir perempuan dalam mengasuh dan mendidik anak serta perannya dalam keluarga. Tanpa adanya pembekalan pengetahuan lebih dulu dalam mengurus biduk rumah tangga maka akan sangat memberatkan perempuan.

Maka bisa disimpulkan pendidikan itu sangat penting bagi perempuan, baik itu formal maupun yang mengembangkan ketrampilan dan wawasannya. Walaupun beberapa pihak meremehkan hal tersebut, terutama yang mengagungkan budaya patriarkhi dan agama sebagai pembelaan. Selain itu, perempuan juga wajib melanjutkan pendidikan ke jenjang yang tinggi karena pendidikan tinggi bukan hanya milik laki-laki. Pendidikan pada perempuan juga mempengaruhi pola pikirnya dalam mengerjakan tugas-tugas domestik terutama dalam mengasuh dan mendidik anak, begitu juga dalam menyelesaikan tugas publik. Sudah saatnyabentuk-bentuk diskriminasi dan ketidakadilan gender tidak mempengaruhi perempuan untuk mendapatkan pendidikan. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya dilihat dari peran figur laki-laki tetapi perempuan juga punya peran di dalamnya.


TAGS perempuan penidikan bagi p[erempuan gender patriarkhi


-

Author

Follow Me