Dominasi Laki-Laki Dari Dulu Hingga Sekarang

15 Apr 2013

Oleh: Sri Pramulia Panani

Dominasi laki-laki telah menempatkan sejarah panjang dalam peradaban manusia. Hal tersebut terlihat lelaki selalu memegang peran sebagai penguasa selama berabad-abad. Bila dibandingkan dengan perempuan, tentu tidak banyak perempuan yang berkuasa dan menjadi pemimpin di dunia ini. Sebagian besar perempuan ditempatkan hanya sebagai pelengkap dalam dominasi laki-laki.

Dominasi lelaki atas perempuan itu terjadi hampir di semua lini kehidupan. Baik dalam kehidupan rumah tangga, kegiatan sosial, dan tentunya dalam kancah politik. Secara umum lelakilah yang mengambil peran dalam berbagai aktivitas tersebut. Jika pun ada perempuan yang maju di panggung politik tidak banyak jumlahnya. Selebihnya hanya menjadi mahluk nomor dua, menjadi korban dari segala kebijakan yang dibuat laki-laki.

Catatan sejarah telah membuktikan bagaimana perempuan diperlakukan tidak adil dan menjadi korban dominasi laki-laki. Penguasa-penguasa negara memperlakukan perempuan tidak lebih dari objek seksualitas belaka. Perempuan diperjualbelikan, perbudakan, dan sebagainya. Dominasi lelaki telah merendahkan derajat dan martabat wanita. Diakui atau tidak itulah kenyataan yang terjadi. Hal tersebut masih terjadi hingga sekarang. Contohnya dahulu seorang pemimpin negara bebas mengoleksi istri banyak, memiliki budak perempuan melakukan tindak kekerasan pada perempuan karena mereka berkuasa. Tengok saja Cina bagaimana dahulu kaisarnya memiliki istri dan selir banyak. Tidak hanya Cina, raja-raja Eropa tidak lebih sama. Bagaimana perbudakan ada di Amerika dan negara-negara Timur Tengah. Dan tentu tidak lupa bahwa presiden pertama negara Indonesia memiliki istri banyak. Hal itu memperlihatkan bagaimana kekuasaan dan praktek dominasi laki-laki itu tidak dapat ditolak oleh masyarakat.

Kelindan budaya patriarki

Walaupun hal tersebut sudah tinggal catatan sejarah, namun praktik serupa belum benar-benar hilang. Praktik dominasi masih terjadi hingga sekarang, walapun dengan topeng berbeda. Contohnya bagaimana para penjabat negara memiliki istri lebih dari satu. Para pemimpin daerah memanfaatkan kekuasaanya untuk memperlakukan perempuan seenak mereka dengan topeng pembelaan agama. Praktik penggunaan jasa seks sudah menjadi rahasia umum di negara ini.

Hal tersebut telah membuktikan bagaimana dominasi laki-laki itu ada hingga hari ini dari berabad-abad lamanya. Terkait hal tersebut, tentunya menimbulkan pertanyaan mengapa dominasi laki-laki bergitu berjaya dengan berbagai bentuk revolusi dalam praktiknya. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan peradaban manusia sendiri. Perspektif kultural terkait maskulinitas menjadikan laki-laki dipandang sebagai sosok yang kuat secara fisik, berkuasa, lelaki menempati kedudukan sebagai pemimpin dan sebagainya. Sebaliknya perempuan tersubordinasi ke wilayah rumah tangga dipandang lemah dan rendah.

Perbedaan lingkup kekuasaan itu masih bisa diterima perempuan selama dalam prosesnya kerja sama itu setara. Namun, pada kenyataan kerjasama tersebut berubah menjadi bentuk-bentuk keserakahan dari salah satu pihak yang merasa dirinya lebih superior. Dan faktanya laki-laki lah yang melakukannya. Sehingga muncul berbagai tindakan negatif akibat dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dan sebab mengapa perilaku tersebut tidak hanya terjadi pada satu person. Karena, perilaku tersebut ditiru oleh sejumlah oknum laki-laki lain yang juga sebagai penguasa dan merasa hal tersebut sebagai nilai kebanggaan tersendiri. Akhirnya, konsep penguasa adalah figur pemimpin yang menjadi kebanggaan dalam masyarakat menjadi kabur. Baik dalam pandangan masyarakat maupun pada perempuan.

Dominasi laki-laki ada karena ketimpangan hubungan lelaki dan perempuan tidak hanya disebabkan karena perbedaan gender saja, melainkan lebih dikarenakan keserakahan penguasa/pemimpin. Penguasa itu akan menggunakan kekuasaannya untuk mengeksploitasi orang-orang yang dikuasainya. Laki-laki yang menjadi pemimpin atau penguasa, keserakahan mereka biasanya berkisar pada kekuatan dan seksualitas dan terjadi hingga hari ini. Selama bentuk-bentuk keserakahan itu dan perbedaan gender masih terjadi maka akan sulit mengubah paradigma dominasi laki-laki, apalagi ditunjang budaya patriarki yang mengakar.


TAGS dominasi laki-laki patriarki


-

Author

Follow Me