Perempuan dan Media Massa

15 Apr 2013

Oleh: Sri Mulia Panani

Tidak dapat dipungkiri, perempuan adalah pasar potensial dalam media massa. Berita mengenai sisi perempuan dari segi manapun menarik untuk diberitakan, bahkan bisa meraup keuntungan. Terbukti beberapa acara stasiun televisi menayangkan acara mengenai perempuan. Begitu juga di media massa berita mengenai perempuan menjadi berita yang banyak menyita perhatian. Misalnya, berita mengenai perkosaan, pencabulan, pelecehan seksual guru terhadap muridnya, gratifikasi seksual mahasiswa M yang sempat menjadi headline berita di media massa. jika berita tersebut dikemas sesuai fakta tanpa mengandung unsur sensualitas, vulgar, memojokkan korbannya itu tidak apa-apa. Akan tetapi, terkadang media lebih mementingkan bagaimana berita tersebut dikemas menarik penonton, maupun pembacanya tanpa mempertimbangkan aspek sensitif gender pada berita yang disuguhkan.

Diungkapkan Hidayat dan Sandjaja, dalam Media And The Pandora’s Box Of Reformasi mengungkapkan bagaimana euforia reformasi ikut berperan dalam menjadikan media massa saat ini sebagai kotak pandora yang melepaskan berbagai macam hal buruk, seperti konflik dan kekerasan sebagai komoditas. Tidak hanya aspek politik dan liputan-liputan berbau mistik yang tadinya tabu dibicarakan menjadi terbuka dijadikan liputan media. Bahkan hal-hal yang berkaitan mengenai seksualitas dan seks menjadi komoditi jualan paling laris dalam media.

Terkait dengan hubungan media dengan perempuan, dalam perjalanannya media seakan-akan membentuk deskripsi sendiri mengenai konsep perempuan. Media membuat citra perempuan melalui sudut mereka yang dianggap komersil, entah mengacu pada realitanya atau karena mengacu pada pasar penonton ataupun pembaca. Contohnya pada tayangan sinetron. Perempuan selalu digambarkan mahluk yang lemah, korban dari ringan tangan lelaki, bodoh, tidak berani bersikap dan sebagainya. Semua serba dilebih-lebihkan. Dan seakan-akan masyarakat kita menyukai sesuatu yang berlebihan atau overdramatis. Jarang sinetron yang mengupas sisi perempuan dengan kenyataan yang ada.

Perempuan selalu dikaitkan dengan sumber sensasi, seksualitas, dan lainnya. Berita mengenai perkosaan, pelecehan seksual, dan segala aspek dramatisasi kehidupan perempuan menjadi aspek human interest dalam media yang tidak pernah habis. Korban perkosaan, pelecehan seksual, selalu mendapatkan sorotan paling banyak dari pada pelakunya. Bahkan pemberitaanya merembet menjadi tema-tema yang menyangkuut kehidupan korbannya. Misalnya, pemberitaan mahasiswa M dan gratifikasi seksual, memunculkan pemberitaan mengenai ayam kampus. Fenomena perempuan korupsi dikupas tuntas hingga segi kehidupan pribadinya dan keluarganya.

Punya nilai jual tinggi

Percaya atau tidak TV salah satu media sebagai alat pencuci otak paling murah dalam masyarakat kita. Mengapa dikatakan demikian, karena mayoritas penduduk kita menghabiskan waktu menonton tv. Tayangan sinetron yang sama setiap hari ada dengan segala cerita dan penokohan yang penuh intrik, kekerasan, dramatisasi berlebihan dan kehidupan yang glamor tak biasa. Iklan dikemas sedemikian rupa, hingga tidak masuk logika keterkaitan produk dengan deskripsi iklan yang disuguhkan. Justru esensinya tidak nyambung dengan produk yang ditawarkan sehingga menimbulkan deskripsi ambigu bagi penontonnya. Perempuan turut dijadikan alat penarik konsumen entah dari tampang, bentuk badan, suara mendesah dan sebagainya. Begitu pula penontonnya terutama perempuan menjadi objek potesial yang gampang dipengaruhi oleh berbagai produk iklan.

Pada akhirnya perempuan dipandang sebagai obyek media masa karena perempuan memiliki nilai jual tinggi. Nilai jual perempuan mahal sebab secara fisik adalah mahluk yang menawan. Akan tetapi, keindahan fisik perempuan tersebut tidak jarang dimanfaatkan oleh pelaku media sebagai komoditas dan identitas. Perempuan hanya dilihat dari fungsi keindahan biologisnya saja sehingga tidak jarang perempuan cenderung sebagai obyek yang sepihak, tanpa mengedepankan nilai-nilai atau norma serta penghargaan terhadap perempuan.

Teori feminisme pun menyatakan bahwa media massa diasumsikan sebagai alat utama untuk mendominasi dan menindas wanita, karena mereka tidak memfungsikan media massa sebagai media untuk pendidikan, tetapi lebih banyak pada orientasi bisnis semata. Sehingga memanipulasi pesan-pesan hanya untuk kepentingan pengiklan.

Mau tidak mau begitulah kondisi media massa Indonesia keterkaitannya dengan perempuan. Media massa sejauh ini masih terkesan tidak sensitif gender, yaitu proses legitimasi bias gender masih diberi tempat, terutama dalam menyajikan representasi perempuan. Eksploitasi perempuan yang kerap terjadi dalam pemberitaan media massa bisa diminimalisasi apabila pelaku media memiliki perspektif gender dan melihat perempuan sebagai manusia, bukannya objek. Maka dari itu perlu adanya penghargaan dalam pemberitaan perempuan yang sensitif gender karena hal tersebut dapat memacu pelaku media untuk memberitakan perempuan melalui perspektif berbeda.


TAGS perempuan dan media massa perempuan


-

Author

Follow Me